Saturday, February 9, 2019

Ramai Investor Asing Di Startup Indonesia Harapan Nodeflux Startup AI Lokal


Isu nasionalisme kembali memanas di ranah perusahaan rintisan (startup) di Indonesia. Terutama setelah startup unicorn, Go-Jek dan Tokopedia, ramai diinjeksi modal para investor asing.
Isu ini juga mendapatkan perhatian startup Nodeflux, startup lokal yang fokus pada ranah kecerdasan buatan, artificial intelligence (AI). Nodeflux menawarkan solusi teknologi sebuah pengenalan wajah (face recognition) yang terpasang di CCTV yang terhubung dengan database kependudukan.
Meidy Fitranto, Co-Founder dan Chied Executive Officer (CEO) Nodeflux, mengakui concern soal para investor ini. Apalagi Nodeflux sedang dilirik beberapa investor asing. Tapi Meidy tidak ingin menyebutkan nama-nama venture capital asing itu.

Menurut dia, soal investor ini harus menjadi perhatian penuh pemerintah, bukannya urusan startup. Pemerintah bisa memberikan dukungan regulasi terkait pendanaan bagi startup di Indonesia. Seperti investor asing yang kepincut masuk ke startup lokal harus bermitra dengan investor lokal pula. Porsi pendanaannya bias dibagi, semisal 51 persen banding 49 persen. Bukan 100 persen dana asing.
Alasannya, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan asupan pendanaan. Sebab Indonesia memiliki kelompok usaha besar alias konglomerasi.
"Indonesia ini tidak kekurangan dana. Konglomerat lokal punya banyak dana. Tapi Sayangnya, konglomerat kita lebih suka membuat sendiri-sendiri (perusahaan modal ventura), karena dia berpikir bahwa pendanaan ini adalah perpanjangan tangan untuk memajukan korporasi mereka. Padahal harusnya nggak seperti itu," kata Meidy saat ditemui usai acara CEO Talks di kantor KLY, Menteng, Jakrta Pusat, kemarin (7/2).
Diskusi masalah investor, Meidy menjelaskan Nodeflux yang menyediakan solusi AI berupa solusi teknologi pengenalan wajah (face recognition) yang sekalian terpasang di CCTV dan terhubung database kependudukan.
sumber goodnewsfromindonesia.id
Saat ini kecerdasan buatan yang berbasis mesin atau computer bisa melakukan kegiatan berpikir layaknya manusia. Bahkan, kecerdasan buatan ini bisa mengenali dan mendengar layaknya seperti manusia. Nodeflux sendiri bergerak di bidang AI dan video analytics, memakai teknologi machine learning dan deep learning.
"Computer vision membuat mesin dapat melakukan pengenalan obyek, mengenali manusia, gender, hingga usia," ucapnya.
Di dirikan tahun 2016, Nodeflux telah terlibat di beberapa proyek kamera keamanan yang memantau event olahraga terbesar di Asia, Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, IMF-World Bank Group Annual Meeting 2018 di Nusa Dua, Bali.
Meidy menceritakan, pada saat Asian Games 2018, Nodeflux bekerja sama dengan Kepolisian RI untuk mengaplikasikan teknologi pengenalan wajah yang dipasang di CCTV, tujuannya apalagi kalau bukan untuk memantau keamanan. Selain itu, kecerdasan buatan, startup yang bermarkas di Kemang, ini juga bisa mengestimasi berapa banyak jumlah massa dari  kerumuman. 

Sumber : Merdeka.com



perkenalkan nama gue ayu lestari kehidupan gue sehari hari makan tidur berak hidup gua monoton bet dari pada monotn yakan mending gue ngeblog buat ngabisin waktu sehari hari gue